Resolusi 2018: Buatlah Perencanaan Sepanjang Tahun; Karena Semua Keberhasilan Berawal dari Perencanaan. Ini Dia Resolusiku di Tahun 2018.

Gagal membuat rencana sama dengan merencanakan untuk gagal.

Saya orang yang nggak suka dengan merencanakan sesuatu karena seringkali rencana tinggal rencana yang enggan saya lakukan. Alasannya bisa bermacam-macam, mulai malas, lupa atau keinginan melewati rencana itu dan segudang alasan lain yang membuat rencana itu gagal. Untunglah saya menikah dengan orang yang suka berencana. Jadi sedikit demi sedikit saya mulai menata. 


Dari hal kecil dan terlihat sepele sebenarnya. Kebiasaan saya kalau mau pergi besok pagi baru besok pagi saya packing. Nggak niat pergi banget kelihatannya, ya. Suami saya kesal setengah mati lihat kebiasaan saya itu. Alhasil, banyak barang yang mestinya dibutuhkan jadi lupa nggak keangkut. Kalau udah gini siapa yang repot? 

Hampir di setiap akhir tahun, aku membuat resolusi meski belum tentu juga sepanjang tahun aku melakukan semua yang aku tulis. Biasanya malah terbengkalai di sudut ruangan atau hilang entah ke mana. Lalu apa fungsinya aku bikin resolusi? Buat gaya-gayaan? Nggak juga. Buat aku kalau nggak membuat resolusi di akhir tahun itu seperti ada yang kurang. Nggak ada rencana, nggak ada action. Nggak ada action, nggak ada keberhasilan.

Tiap tahun pasti ada keinginan supaya bisa jadi lebih baik di tahun depan. Menurutku itu umum banget jadi keinginan semua orang. Resolusi menjadi teramat penting untuk dilakukan supaya tujuan itu lebih spesifik. Nah, dengan tujuan itu aku berusaha untuk mencapainya. Nabung, rajin nulis dan usaha buat bisa beli HP baru. Akhirnya, di pertengahan tahun aku sudah berhasil membelinya dengan uangku sendiri.

Membuat resolusi itu gampang-gampang sulit. Gampang ditulis tapi sulit dilaksanakan. Karenanya aku bikin resolusi kali ini harus punya syarat:

1. Nggak usah muluk-muluk.
2. Bisa dilakukan.
3. Sesuai kemampuan.
4. Emang harus niat.

Berdasarkan keempat syarat di atas, maka aku harus memutuskan bahwa pemenangnya eh, salah maksudnya resolusi saya tahun 2018 adalah 

1. Tidak mudah terintimidasi oleh omongan orang lain.
Selama ini saya mudah down kalau mendengar orang bilang sesuatu yang negatif. Bukan saja menjadi down, tetapi juga membuat patah semangat dan kadang berhenti untuk melangkah. Tahun ini saya akan melangkah meski dunia berkata tidak mungkin namun buat Tuhan dan orang yang percaya tidak ada yang tidak mungkin.

2. Lebih banyak berdoa dan berusaha.
Banyak berdoa tanpa berusaha membuat kita jadi putus asa, sebaliknya jika berusaha tanpa berdoa seakan tidak ada penguat dalam roh. Jadi dua-duanya penting untuk mencapai keberhasilan.

3. Belajar masak.
Nggak tahu juga kenapa belakangan saya tuh malas masak. Ada sesuatu yang bikin saya nggak pede pengen coba masak sesuatu yang baru. Setelah ditelusuri poin nomor 1 harus diterapkan juga. Nggak mudah kena sama omongan orang lain. Tahun 2018 saya harus mau belajar masak sesuatu yang baru meski mama mertua komen apa, saya berusaha cuek.

4. Menulis lebih giat.
Di tahun 2017 ini saya membuat postingan di blog lebih banyak dari tahun 2016, meski umumnya tulisan saya dibuat demi mengikuti lomba blog. Namun sayang prestasi saya cuma mencapai juara 3 lomba blog. Itu pun hanya satu, yang lain baru dapat hadiah hiburan aja. Itu artinya saya harus meningkatkan kemampuan menulis dan membuat blog.

5. Jadi writerpreneur.
Banyak juga penulis yang menggantungkan hidup hanya dari nulis. Saya jadi pengen punya pendapatan dari nulis, syaratnya saya harus rutin nulis. Nulis kirim dan nulis lagi. Hasil bayarnya disimpan buat modal cari sumber tulisan, misalnya jalan-jalan ke tempat wisata.

6. Lebih menjaga kesehatan.
Saya termasuk orang yang gampang capek, jadi jika kecapekan akan mudah sakit. Mudah sakit tentu mengganggu aktifitas saya sebagai istri dan sebagai seorang pengejar cita-cita menjadi penulis produktif. Bagaimana saya akan bekerja jika saya sakit? Untunglah ada vitamin kesehatan, Theragran M Tablet. Vitamin yang bagus untuk mempercepat masa penyembuhan. Jadi kalau sakit jangan lama-lama.


Fungsi dari Theragran M Tablet.
* Melindungi sel terhadap kerusakan peroxidative dengan meningkatkan tingkat glutathione.
* Menetralkan keasaman lambung dengan meningkatkan pH lambung.
* Metabolisme karbohidrat sehingga mempertahankan pertumbuhan normal.
* Memproduksi antibodi dan hemogoblin dengan menjaga tingkat gula darah dalam kisaran normal.
* Mengobati kekurangan vitamin b12.
* Meningkatkan penyerapan aktif kalsium dan fosfor oleh usus kecil meningkatkan kalsium dan kadar fosfat.

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Theragran-M.

Cerpen pertama di GOGIRL! WEEKEND WEB STORY : Cangkir Biru Ayah.


Apa artinya cangkir biru buat Ayah? Sampai semua orang di rumah ini tidak boleh memakai bahkan untuk memakainya pun jangan. Sebuah cangkir kuno berhiaskan bunga mawar berwarna putih di satu sisi, tersimpan rapi di rak pajangan kamar kerja ayah bersama buku-buku yang kerap kupinjam.



"Hati-hati Gisel, jangan sampai cangkir Ayah pecah!" seru Ayah selalu setiap kali aku membuka rak hendak mengambil buku. Ayah selalu hati-hati menjaga cangkirnya. Tak ubahnya seperti memegang benda berharga ratusan juta rupiah. Ayah membersihkannya dari debu setiap hari. Padahal menurut pengamatanku cangkir itu tidak lebih seperti barang bekas yang sudah dipakai berulang-ulang.
“Bunda pernah dimarahi habis-habisan sama ayah ketika menanyakan asal muasal cangkir itu," ujar Bunda ketika aku menanyakan soal cangkir biru itu.
"Mungkin Ayah punya kenangan tersendiri dengan cangkir itu," timpalku.
Bunda mengangkat bahu sambil meneruskan meracik sayuran yang hendak dimasak sore ini. "Sudahlah yang terpenting Ayah tetap sayang kepada kita," ujar Bunda.
Ah, Bunda. Aku memeluk pinggang bunda dari belakang. Selalu Bunda yang mengalah kalau sudah berurusan dengan cangkir Ayah.

***

Ayah dan cangkir birunya selalu membuatku penasaran. Tapi Ayah tidak pernah mau menceritakan apapun padaku. Beliau sosok yang begitu hangat dan sosok Ayah idaman. Mungkin juga seorang pria tampan idaman setiap perempuan di dunia. Namun kehangatan dan perhatian yang melimpah sebagai Ayah mendadak hilang ketika berurusan dengan cangkir kesayangannya.
"Apakah cangkir biru itu lebih istimewa dari anak perempuan Ayah?" tanyaku saat masih mendapati Ayah masih termenung memegang cangkir di ruang kerjanya. Hari di mana Ayah selalu duduk lebih lama membersihkan cangkir itu selalu jatuh di tanggal dan bulan yang sama setiap tahun.
Beliau menggeleng, "tentu anak Ayah lebih istimewa dari apapun di dunia ini." Sahutnya sambil meletakkan cangkir di raknya dengan hati-hati.
"Ayah pasti lupa kalau hari ini Ayah harus menjemputku di hari Ayah sedunia seperti tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya," ujarku sambil melangkah keluar dari ruangan.
"Gisela, Ayah minta maaf tahun depan pasti ayah akan datang," seru Ayah.
Selalu janji yang sama. Tahun lalu Ayah juga berkata demikian.
"Gisela, mana Ayahmu?" pertanyaan Jessy, dan teman-teman yang lain hanya kujawab satu kata, "sibuk."
Dan mereka mengangguk mengerti. Ada seorang temanku yang mempunyai ayah pelaut yang jarang pulang, tapi selalu berusaha pulang di hari Ayah nasional. Ada juga yang berprofesi jadi dokter, pilot, tentara, pengusaha. Tapi mereka selalu datang ketika ada acara Hari Ayah nasional di sekolah menemani anak-anaknya.
Ayahku hanya seorang pelukis yang punya waktu untuk mengikuti seminar, pameran, bahkan sempat mengajar tentang lukisan. Tapi tak pernah ada waktu untuk datang ke sekolah di hari Ayah. Alasannya pasti karena Ayah lupa.
"Mungkin kamu akan mengerti satu saat nanti," itu yang selalu Ayah katakan saat kutanya mengapa Ayah lupa tiap hari spesial itu tiba.

***

“Setiap orang pasti punya benda kesayangan,” ucap Tanti.
"Tapi nggak segitunya deh! Masa sampai tidak ada seorangpun yang boleh menyentuhnya," sanggahku.
"Mamaku punya guci keramik yang sangat mahal di rumah. Orang serumah juga nggak ada yang boleh menyentuhnya. Alasan Mama, guci itu guci kuno. Peninggalan kakek. Kemungkinan masih ada roh nenek moyang yang menghuni guci itu. Jadi kalau ada yang berani menyentuh, pasti besoknya orang itu akan sakit."
"Hmm, apa menurutmu cangkir biru Ayahku juga ada penunggunya?" tanyaku.
Tanti mengerdikkan bahu, "sudahlah. Lebih baik kita kembali ke kelas saja, yuk!"

***

Ayah tidak ada di rumah saat aku pulang. Padahal aku membutuhkan buku kesenian miliknya untuk tugas prakaryaku. Aku tidak tahu persis di mana Ayah meletakkannya.
"Bunda, Ayah mana?" tanyaku pada Bunda yang baru sibuk menjahit.
"Ayahmu sedang mengikuti pameran lukisan di balai kesenian. Baru akan pulang nanti malam," sahut bunda.
"Aduh! Bisa gagal nanti tugas aku," kutepuk jidatku.
"Bunda bisa minta tolong temani aku mengambil buku di lemari Ayah?" mendadak aku jadi teringat cerita soal guci di kantin tadi.
Bunda mengangkat alis, heran.
"Takut terjadi apa-apa," gumamku.
"Sepertinya Bunda nggak bisa menemani. Lihat tante Vania datang, ia pasti akan mengambil baju pesanannya. Kamu ambil saja, Ayah tak akan marah. Biasanya juga kamu ambil sendiri kan?" kata bunda.
Aku tak punya pilihan lain. Terpaksa harus membuka lemari itu sendirian. Dengan ragu aku melangkah memasuki kamar kerja Ayah. Menatap lemari buku Ayah. Di depan buku-buku itu ada cangkir biru Ayah.
Mungkinkah aku mencari buku yang aku maksud tanpa menyentuh cangkir itu?
Kutelusuri buku-buku itu dari balik pintu kaca terlebih dahulu. Ah, itu dia. Buku yang kucari ada di belakang cangkir ayah!
Bagamana ini? Pintunya agak macet. Aku berusaha membukanya lebih lebar dan praaang!!! Tanpa sengaja aku membuat cangkir ayah terjatuh. Serpihannya tersebar ke mana-mana.

***

Ketika mengetahui cangkir birunya pecah kupikir Ayah akan marah besar seperti saat mengetahui ada anggota keluarga yang menyentuh cangkir kesayangannya. Tapi ia hanya mengusap rambutku dan menanyakan keadaanku. Ia takut kalau aku terluka akibat pecahan cangkir itu. Setelah menyadari aku baik-baik saja, Ayah masuk ke kamar kerjanya sampai larut. Mungkin berusaha menyatukan kembali cangkirnya.
Kata Bunda, Ayah baik-baik saja. Namun tidak menurut pandanganku. Ayah tak pernah bertanya lagi padaku. Tentang aku, sekolahku, atau teman-temanku. Ia juga jarang duduk bersama Bunda di taman belakang menikmati sore yang indah. Wajah ayah kini terlihat jauh lebih tua.
"Mungkin cangkir baru yang sama akan membuat Ayah ceria kembali," ujar Tanti.
Tak mudah mencari cangkir biru yang sama. Sudah hampir larut aku berputar-putar di pusat pertokoan bersama Tanti.
"Aku takkan pulang tanpa cangkir biru," ujarku sambil memegang cangkir biru yang hampir mirip dengan punya Ayah.
Tanti menepuk bahuku, "percayalah Ayahmu akan selalu lebih menyayangimu daripada cangkir birunya."
"Semoga kata-katamu benar," ucapku.

***

"Ayah!" panggilku saat Ayah tengah melukis di kamar kerjanya. Kulihat cangkir biru pengganti yang kutaruh di atas meja tadi masih tetap berada di tempatnya.
"Ada apa?" tanya ayah tetap dingin.
"Maafkan aku," ucapku sambil melihat ke arah lemari Ayah. Pecahan cangkir itu sudah tidak ada.
"Soal cangkir ayah," lanjutku.
Ayah menghela napas pelan, ia berhenti melukis dan berbalik menatapku.
"Mungkin inilah saatnya Ayah menjelaskan kepadamu," katanya.
"Cangkir biru Ayah tidak bisa digantikan oleh cangkir sebagus apapun di dunia. Kenangan dalam cangkir biru itu yang tak bisa tergantikan."
"Maaf. Ayah menyembunyikan semua dari kalian. Tahukah kamu Ayah bersyukur cangkir itu pecah," lanjutnya.
Aku tak mengerti. Ayah berdiri mengambil salah satu lukisannya dan menunjukkan padaku. Kuamati lukisan nenek dan kakek yang sedang duduk bersama di kursi taman. Keduanya terlihat bahagia sambil memegang cangkir berwarna biru seperti punya ayah.
"Ini adalah ayah dan ibunya ayah. Mereka memiliki sepasang cangkir yang sama. Setelah kakekmu meninggal, ayah memecahkan salah satu cangkir. Kebetulan cangkir yang pecah itu adalah cangkir milik kakek. Nenek sangat sedih sampai jatuh sakit. Dan pada akhirnya meninggal. Ayah sangat menyesal, mulai saat itu ayah janji untuk menjaga cangkir yang satunya lagi cangkir milik nenek."
"Bertahun-tahun ayah menyesal karena membuat nenek sedih. Dan ayah telah menyimpan kesedihan di dalam cangkir itu. Tetapi ayah sadar, begitu cangkir itu pecah. Ayah tidak bisa menempatkan putri ayah pada posisi seperti yang ayah alami. Ayah ingin kamu bertumbuh menjadi gadis yang ceria. Maafkan ayah," kata ayah sambil memelukku.
"Tidak. Aku tidak akan memaafkan ayah!" kulepaskan pelukannya.
"Ayah sudah membuatku takut dan berputar-putar di toko gerabah sampai malam. Apa bisa kumaafkan ayah begitu saja?" aku berbalik memunggungi ayah.
"Baiklah. Lalu apa yang harus ayah lakukan?" Tanya ayah.
"Berjanjilah, ayah harus menghadiri perayaan hari ayah tahun depan!"
Ayah mengangguk, "Ya, ayah berjanji. Mulai tahun depan, ayah akan selalu menghadiri acara itu."
Aku tersenyum dan kembali memeluk ayah.
"Ngomong-ngomong siapa yang waktu itu mengantarmu pulang? Pacar anak ayah, ya?" tanya ayah setengah menggodaku.
"Bukan, itu Tio. Ia yang menolongku mencari cangkir biru aku takut kalau ayah akan marah selamanya karena cangkir kesayangan ayah pecah," sahutku.
Aku mendekap ayah lebih erat. Tanti benar. Ayah lebih sayang padaku ketimbang pada cangkir itu. Tapi tidak sepenuhnya. Tentang penunggu cangkir, itu mungkin hanya karangan Tanti saja.
Pada akhirnya semua kesedihan ayah hilang bersama pecahan cangkir biru itu. Dan ayah rela membuang kenangan yang pahit selamanya demi melihatku tumbuh menjadi gadis yang selalu bahagia, tanpa menyimpan kesedihan seumur hidupku.

Cerpen ini dimuat di GOGIRL! WEEKEND WEB STORY tanggal 04 November 2017. 

20 Desember 2017, Catatan Sehabis Sakit.

Hai, teman-teman yang baik hati udah mampir ke blog ini. Entah kalian kesasar atau emang udah jadi pengikut setia blog ini dari dulu, makasih banget udah sempatin baca-baca di sini.



Hari ini ceritanya saya baru aja sembuh dari sakit yang membuat saya terbaring lesu di tempat tidur favorit saya. Padahal saya baru aja pulang kampung (di Sokaraja), pada hari Kamis 14 Desember lalu. Waa! Belum sempat kangen-kangenan sama buku-buku di lemari eh, saya malah demam tinggi. Jengkel sih, karena pulang 10 hari itu rencananya mau kesana-kemari ngurusin ini-itu, akhirnya cuma mendekam dalam kamar selama 4 hari full. Makan nggak ada yang masuk. Padahal makanan banyak dan udah tinggal makan, tapi kok ya mau mengendap di lambung aja susahnya. Baru lima menit makanan itu balik lagi. Duh, sampai trauma kalo mau makan.

Saya pun berdoa pasrah sama Tuhan, kalo emang mau sembuh ya sembuhkan. Kalo tidak ya bawa pulang ke surga aja. Habis itu saya langsung WA suami untuk minta maaf atas kesalahan saya. Ya buat jaga-jaga kalo saya memang udah waktunya pulang. Tapi nggak jadi. Waa, apa saya lebay?

Tapi saya sangat bersyukur karena pada hari Kamis sudah pulang, karena di hari Jumat malam ada gempa yang menggetarkan sebelah selatan Pulau Jawa. Sempat dibangunin mama waktu itu untuk keluar rumah. Puji Tuhan semua aman, tak ada korban dan tanpa kerusakan bangunan. Hanya ada 2 rumah sakit yang katanya mengalami kerusakan parah karena memang kondisi bangunan yang kurang baik. Juga untuk beberapa wilayah di Jawa Barat, semoga semua bangunan yang rusak bisa diperbaiki segera.

Setelah gempa, saya nggak langsung tidur lagi melainkan mencari info perkembangan tentang gempa. Setelah hampir jam 2, saya baru bisa tidur lagi. Tapi susah juga. Sempat kepikiran sama suami di Jogja, kenapa di WA kok nggak masuk-masuk? Mau telepon takut ngagetin, mungkin dia nggak kerasa ada gempa kali ya. Benar dugaan saya, dia sama sekali nggak tahu kalau semalam ada gempa lumayan gede. Padahal saudara saya yang di Jogja juga ngerasa ada gempa.

"Ck, ck, ck. Gempa segede itu nggak bangun? Gimana kalau habis gempa ada tsunami?" Ujar saya.
Ah, sudahlah yang penting semua baik-baik saja. Dan sekarang mulai menulis lagi.



Terima Kasih LAZADA Sudah Memberikan #DiskonMengguncangSemesta untuk Mewujudkan Wishlist Saya.

Terima Kasih LAZADA Sudah Memberikan #DiskonMengguncangSemesta untuk Mewujudkan Wishlist Saya.


Mewujudkan mimpi untuk menjadi seorang blogger memang tidak mudah. Tantangan yang saya hadapi justru datang dari keluarga. Mereka belum terlalu familiar dengan bidang ini. Anggapan mereka, saya hanya bermain komputer dan smartphone. Padahal inilah passion saya. Membaca lalu akhirnya senang menulis sudah saya tekuni sejak dulu. Hanya kendala yang saya alami dalam menulis sejak dulu ada pada peralatan mengetik dan mengumpulkan informasi.


Memiliki Smartphone merupakan wistlist saya. 

Bagi saya, memiliki smartphone bukan hal yang mudah. Karena apalah saya ini yang memiliki penghasilan yang tidak menentu, rasanya ngumpulin duit 1,7 juta saja lama banget! Tapi akhirnya keinginan tersebut bisa terwujud. Sekitar satu tahun sudah saya membeli smartphone A*** yang memiliki layar 5'5 inchi. Lumayanlah buat nulis-nulis blog dan ikutin lomba. Hampir semua tulisan saya di blog ini ditulis lewat smartphone itu. Hasilnya memang tidak berupa uang tunai semua, kebanyakan saya memenangkan voucher, buku atau pulsa. Puji Tuhan banget, kan?

Smartphone itu belinya lewat Lazada, Lho! Lazada merupakan pelopor Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) yang diselenggarakan pertama kalinya pada tahun 2012. Harbolnas sendiri adalah ajang tahunan yang diikuti oleh berbagai e-commerce di Indonesia yang didukung sejumlah mitra dari para pelaku industri telekomunikasi, perbankan, logistik dan media. Di ajang ini, kita bisa menemukan banyak promo dan diskon gede-gedean.

Membuka situs Lazada Indonesia rasanya seperti sedang menjelajahi mall tanpa pegal di kaki. Info-infonya cukup jelas dan yang terpentinmg ada diskon, barang dijamin berkualitas dan gratis ongkir, pengirimannya pun terbilang cepat.

Setahun berlalu, setelah kemarin berhasil membeli smartphone, kini kebutuhan akan mesin cuci mulai muncul. Di bulan-bulan awal pernikahan belum terasa membutuhkan tetapi sekarang jadi seperti harus cepat-cepat beli karena Desember adalah puncak-puncaknya musim penghujan. Seringkali pakaian yang dicuci tidak langsung kering menyebabkan bau amis. Jadi nggak pede memakainya meski sudah disemprot dengan pewangi baju. Wanginya berasa bercampur antara wangi-wangi sama bau amis.


Andai ada payung yang sebesar ini, rumah jadi nggak kehujanan he,he,he. 

Waktunya berburu diskon dan promo di Hari Belanja Online Semesta. Asyiknya belanja online itu kita bisa ngubek-ngubek info barang tanpa harus keluar rumah dan pergi ke toko yang satu ke toko yang lain. Di sini kita juga bebas membandingkan kelebihan promo dari toko satu dan toko yang lain.


Kelebihan Berbelanja Online Lewat LAZADA

1. Tidak perlu keluar rumah.
2. Bisa bertransaksi kapan saja dan di mana saja.
3. Banyak diskon mulai dari 10 % sampai 30%.
4. Mudah pembayarannya.
5. Cepat pengiriman barang.
6. Ada fasilitas bayar di tempat untuk item tertentu.





Sedikit tips buat kamu yang mau belanja online dengan memanfaatkan Harbolnas 2017 yang jatuh pada tanggal 12 Desember besok. 

1. Mulai incar barang yang akan kamu beli dan benar-benar dibutuhkan.
2. Masukan dalam kantong wishlist kamu supaya mudah mencarinya.
3. Baca dan teliti promo yang ada.
4. Pastikan toko yang menjual mendapatkan review bagus dari para pembeli sebelumnya dan cek tempat toko itu. Karena akan mempengaruhi promo gratis pengiriman juga.
5. Pastikan kamu belanja di e-commerse yang terpercaya seperti Lazada.
6. Terakhir, pastikan juga saldo rekening kamu cukup untuk membayar tagihan belanja, ya! He, he, he.


Jadi sudah siapkah kamu dengan wishlist buat belanja di Harbolnas 2017 #DiskonMengguncangSemesta? Kamu sudah bisa berbelanja dengan diskon besar-besaran mulai 11 November-12 Desember 2017 di sini.







Postingan Awal Desember 2017.

Postingan Awal Desember 2017.

sumber: Pixabay.com
Halo, sudah lama banget nggak posting di blog ini. Rasanya kangen pengen nulis lagi. Akhirnya saya mencoba menulis bebas hari ini, bebas yang terkendali lho ya! Saya tuh sedang giat-giatnya menulis artikel di The Smarter Way ShopBack. Buat ikut kompetisi juga. Namun untuk mendapat komisi lebih saya harus nulis sebanyak-banyaknya dan mendapatkan view. Cukup merasa jenuh dan bikin mata nut-nutan. Jadi untuk menghilangkan rasa suntuk saya nulis beginian (maaf kalau saya bikin postingan nggak jelas).

Intinya saya terhenyak dengan waktu yang terasa cepat sekali berlalu. Sepertinya baru kemarin saya lahir, eh, sekarang sudah jadi istri dari seorang pria. Menjalani hari-hari menjadi istri baru (maksudnya penganten anyar), butuh perjuangan. Yang tadinya ogah masak, sekarang disuruh masak terus. Kalau nggak masak nggak bisa makan. Mau beli terus, boros bro!

Kalau siang, suami lagi pergi kerja rasanya tuh bete banget! Banget! Pengen pergi harus punya modal yang banyak, karena saya nggak bisa naik motor. Huh! Sakit banget rasanya harus seharian di rumah tanpa kegiatan yang menghasilkan. Tapi saya nggak mau nyerah dengan keadaan. Berbekal smartphone dan komputer saya nulis. Nulis terus. Kalau nggak nulis rasanya stress. Tadi sempat berbincang sama suami. Bulan ini nggak terasa sudah nulis 28 artikel. Wow! Jumlah yang fantastis, kan? Semoga saya bisa terus menulis seperti ini. Namun, blog saya kosong melompong!

Itu tandanya saya harus terus berbenah. Strategi harus dibuat. Sempat keteteran mengelola dua blog juga. FYI, blog yang satu masih utuh belum ada postingannya. He, he, he. Tepuk jidat sendiri! Plak!

Badai dalam minggu ini.

Pada seminggu terakhir di bulan November bisa dikatakan hari-hari penuh hujan. Bukan hujan yang mengerikan sih di daerah saya. Tetapi cuaca jadi benar-benar ekstrim saat di mana-mana banjir. Rasanya baru kali ini saya mengalami hujan berhari-hari tanpa henti. Maka tidak heran jika sampai membuat genangan (dibaca: banjir) ada di mana-mana sampai memutus jalan di beberapa daerah khususnya DIY. 

Jogja kebanjiran! 

sumber: doc. pribadi 25/11/2017
Herannya setiap malam minggu nggak pernah hujan. Sehingga saya bisa jalan-jalan ke Pasar Malam Sekaten. Yuhu! Macet! Macet! Macet di mana-mana. Rupanya cuaca cerah membuat semua orang menjadi ingin keluar ibarat laron yang keluar dari sarangnya. Termasuk saya. Hi, hi, hi.

Badai telah berlalu, sekarang perbaikan ada di mana-mana. Bukan hanya jembatan melainkan jalan-jalan yang berlubang. Berbenah untuk saya berarti membenahi kembali segala aspek kehidupan baik secara rohani maupun jasmani, impian yang tertunda, cinta, cita-cita dan harapan. Yang penting semangat terus dalam menjalani kehidupan.