Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2016

Menyiapkan Generasi yang Berkualitas dengan Budaya Sensor Mandiri

Menyiapkan Generasi yang Berkualitas dengan Budaya Sensor Mandiri.
“Aaaa!!!”
Huft! Untung cuma mimpi, batinku. Tangan-tangan yang keluar dari dalam dinding. Hii, serem!
Ah, ini pasti karena pengaruh nonton film horor di bioskop tadi siang. Hmm, besok-besok lagi mending nggak usah nonton film horor lagi.
“Huu, dasar penakut!” ledek teman saya.
“Emang!”
“Trus kenapa milih film horor?”
He,he,he. Saya cuma nyengir.
Itu pengalaman saya akibat menonton film. Gara-gara menonton film horor saya jadi bermimpi buruk. Bisa dibayangkan bila yang menonton adalah anak kecil. Apakah mereka akan terbayang-bayang dengan adegan yang mereka tonton. Tak masalah jika adegan yang mereka tonton itu baik dan mengedukasi. Tetapi jika yang mereka tonton adalah adegan kekerasan atau adegan mesra bukankah tidak mungkin mereka akan menyerap hal yang demikian. Maka tidak heran bila ada anak-anak dibawah umur melakukan aksi kekerasan, penganiayaan sampai hal yang diluar nalar bisa dilakukan oleh anak kecil seperti peme…

Puisi "Jelita yang Menangis"

Mumpung masih bulan Agustus, saya mau posting puisi tema "negeri".
Jelita yang Menangis

Ada apa denganmu? Wahai Jelita yang menangis Mengapa kau tertunduk lesu hari ini? Siapa gerangan yang buat kau begini? Aku tahu negeri kita sedang kritis Ekonomi melemah,  Kejahatan di mana-mana, Harga-harga barang makin tinggi Sementara rakyat berteriak Bayi-bayi menangis Namun itu semua bukan alasan Kita harus bergerak Wahai Jelita yang Menangis Harapan akan selalu ada Asal kita mau beranjak Bangkit dan mencoba Dengan semangat baru Usaha baru Membangun negeri Bersatu untuk maju Ya bangkitlah wahai Jelita Jadilah mandiri untuk negeri

#Cermin Bayi Besar

#Cermin #BayiBesar Ketika Seorang Mama tak diperlukan Lagi

Umurnya baru 6 bulan tapi ia sudah bisa berdiri, makan sendiri, dan memandikan dirinya sendiri. Mana mungkin? Fara mengerjapkan mata. Menggeleng. Pasti aku sedang berhalusinasi.
“Mama?” Dia menoleh ke arah mamanya.
Dia bahkan sudah bisa bicara, batinnya. Oh, anak siapakah ini? Bukankah baru kemarin dia lahir dipangkuanku? Bila dia sudah secepat ini tumbuh dalam enam bulan, berapa lama lagi dia diperlukan jadi seorang ibu? Kecemasan tiba-tiba terukir di hatinya.
“Ma, aku sudah bekerja.”
“Ma, aku ingin menikah.” Mungkin itu yang sebentar lagi dia dengar dari mulut anaknya.
Seseorang memeluk Fara dari belakang, “Ma!”
“Astaga, Papa.” Fara berbalik badan.
“Di mana Revo?” tanya suaminya heran.
“Itulah Pa, aku takut anak kita pergi ke luar tak pamit lagi.” Katanya sambil melihat ke halaman.
“Biar saja, dia sudah dewasa sekarang.”
“Tidak, tidak! Dia masih kecil. Ah, susunya masih belum diminum.” Ujar Fara.
“Ma, anak kita sudah 25 ta…

Cerpen Anak Pertamaku yang Tampil di Media

Berbagi Itu AsyikYustrini


“Bobby pelit! Bobby pelit!” ejekan dari teman-temannya terus mengiringi Bobby sampai halaman rumahnya.
Boby masuk dengan perasaan kesal. Ia jadi kehilangan semangat untuk bermain gara-gara Rio ingin meminjam sepeda untuk belajar naik sepeda. Sebenarnya ia tak suka dibilang pelit tadi. Hanya saja ia tidak mau sepedanya menjadi kotor atau rusak. 
Bobby memang selalu berhati-hati terhadap semua barang yang diberikan orangtuanya untuknya. Jadi ia tak pernah mengijinkan teman-temannya menyentuh barang-barang miliknya. Akibatnya semua temannya merasa sebal dan menjuluki Bobby Mr.Pelit.
* * *
Hari ini kedai mie pangsit paman Bobby resmi dibuka. Bobby bersepeda menuju ke sana untuk melihat-lihat sekaligus ingin membantu paman berjualan. “Siang Bob, ayo cicipi dulu mie pangsit buatan paman.” ujar paman ketika mengetahui Bobby datang ke kedainya. Sementara paman membuat mie pangsit, Bobby berkeliling kedai. Kedai milik pamannya lumayan luas. Di sana-sini banyak tanaman…