Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2016

Surat Cinta Secret Admirer

Buat kamu yang diam-diam kucintai...
Tahukah kamu... Kalau selama ini ada yang diam-diam mengagumimu sejak kamu datang pertama kali sebagai siswa baru di kelasku. Siswi berkacamata dengan rambut sebahu bersama beberapa jerawat yang tak tahu malu menghiasi pipinya. Ya, itu aku. Mungkin kehadiranku tak pernah disadari oleh teman-teman sekelas. Tapi, kau berbeda dengan mereka. Kau selalu tersenyum padaku. Tulus. Walau aku tahu bahwa senyum itu agak kaupaksakan ketika tanpa sengaja, mata kita bertemu pandang.  Dan aku selalu membalas senyummu dengan seulas senyum sambil menundukkan kepala. Aku tak tahu apa kau sempat melihat senyumku atau tidak.  Aku sadar aku hanya gadis biasa yang tak akan pernah bisa menarik perhatianmu. Terlalu banyak gadis di kelas kita yang jauh lebih cantik dariku untuk menjadi teman dekatmu bahkan menjadi kekasih hatimu. Apalah aku jika dibandingkan mereka.


Tahukah kamu... Aku suka sekali melihatmu bermain musik dari kejauhan. Kau mengagumkan bisa memainkan berba…

Syndrom Hari Rabu [cerpen dimuat di majalah Kawanku, no. 208 22 Juli-05 Agustus 2015 ]

Bernostalgia sama cerpenku yang dimuat setahun lalu di majalah Kawanku. Jujur aku suka banget sama cerpen ini (bukan karena aku yang bikin, lho ya! jadi fanatik). Tapi karena aku memang nulis dengan semangat yang full tanpa tekanan. Horee! Hati yang gembira ternyata bisa menghasilkan karya yang bagus ya. 
Sayang, majalah yang memuat cerpenku ini tutup. Emang tahun-tahun belakangan adalah masa yang berat banget buat media cetak bertahan melawan arus internet yang makin berkembang aja. Teori evolusi itu selalu terjadi dimana yang kuat akan bertahan, sebaliknya yang lemah akan tenggelam. Tapi bagiku selama masih bisa berusaha, berinovasi dan berdoa pasti ada saja jalan rejeki yang diberikan Tuhan untuk kita (amiiinnn).
Syndrom Hari Rabu Oleh:Yustrini



Namaku Renita. Aku paling nggak suka bangun di Rabu pagi. Rasanya malas berangkat ke sekolah. Maunya tidur dari hari selasa sampai kamis pagi. "Renita banguuun....!!! Sudah jam berapa ini???!" teriakan mama paling heboh yang sering…

Mudik Lebaran Bersama Bebasbayar.com

Pulang ke kampung halaman sudah jadi tradisi orang Indonesia saat libur lebaran. Berkumpul bersama keluarga jadi hal yang penting dan membahagiakan. Tapi buat saya moment mudik bisa jadi menyebalkan karena mudik tiba, macet pun di mana-mana. Kalau sudah begitu jadi malas ke luar rumah. Kecuali kalau nggak penting-penting amat saya nggak akan ke luar rumah. Tapi bagaimana kalau mendadak harus beli pulsa, atau bayar tagihan. Tunggu lebaran usai? Wah, bisa-bisa kena denda nih! Nggak mau buang uang untuk bayar denda, kan?
Tenang, sekarang sudah ada aplikasi pintar yang bisa menemani saat musim mudik tiba. Nggak perlu repot antre di loket, pergi beli pulsa, atau bayar tagihan di kios pembayaran. Karena aplikasi Bebasbayar bisa memudahkan semuanya. Kita jadi seperti punya asisten pribadi sendiri yang mengatur semua keperluan keuangan kita. Keuntungan pakai aplikasi Bebasbayar.com yang bisa kita dapatkan saat mudik tiba antara lain nih:
1. Bebas macet.
Mudik identik dengan macet. Dengan apli…

Corat-coret Aja/Flashfiction

Mainan
By Yustrini

“Aku mau itu,” kata Mira pada mamanya. “Tidak Nak, kamu tidak muat lagi di kereta itu.” “Kenapa?” tanyanya polos. Mamanya menahan napas, “karena umurmu sudah banyak.” “Tidak, Ma. Aku masih kecil. Aku masih butuh itu.” Papanya memandang anaknya sedih, “ini akibatnya kalau mama terlalu memanjakanmu. Dia sudah kuliah sekarang. Masih seperti itu kelakuannya.” Mamanya memeluk anaknya sedih, “dia sedang sakit Pa. Nggak baik kalau kita menolak permintaannya.” “Apa kata teman-teman Papa, Ma? Kalau melihat anak kita masih menyusu padamu, masih memeluk boneka, masih berpakaian ala..”  “Stop!” teriak Mira. “Aku ingin terus menyusu mama, ingin mainan itu, ingin berpakaian seperti ini karena aku ingin kalian selalu menyayangi seperti dulu. Ketika aku baru berumur beberapa bulan. Aku rindu itu, aku mau kalian.” kata Mira sambil menangis. Dan kedua orang tuanya kini tersadar apa kesalahan mereka selama ini.