Langsung ke konten utama

[Resensi Novel] Ailurofil

Ailurofil, novel pecinta kucing...

Judul buku: Ailurofil
Penulis: Triani Retno A
Editor: Irna Permanasari
Desain sampul: Marcel A.W.
Layout: Ayu Lestari
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: pertama, 2016
Jumlah hal: 184 hl, 20cm
ISBN: 978-602-03-2547-7

“Kalo perasaan sayang yang berlebihan pada kucing, disebutnya ailurofilia, pake ‘a’ di belakangnya. Kalo fobia alias takut banget-banget sama kucing, disebutnya ailurofobia atau felinofobia (hal 100).

Nasya Aurelia sangat suka kucing. Ia bahkan rela direpotkan ketika kucingnya akan melahirkan. Menyediakan kardus bekas air minum. Membuat tempat senyaman mungkin untuk kucing kesayangannya itu melahirkan. Tapi siapa sangka, kucing itu memilih tempat yang lebih nyaman yaitu kasur empuk milik Nasya. Kehebohan di pagi buta pun tak terelakkan, ia berkutat dengan kegiatan membersihkan tempat tidurnya dan akibatnya terlambat ke sekolah.
Masalah timbul ketika Rio, cowok yang dipacarinya justru sama sekali tidak suka kucing. Apakah Nasya rela memutuskan cowok itu demi kucing? Di samping itu ia juga mengalami kegalauan untuk memilih jurusan kuliah nanti. Adakah kampus yang memiliki fakultas Ilmu Kucing? Misalnya Jurusan Psikologi Kucing, Jurusan Managemen Psikologi Kucing, Jurusan Sosiologi Kucing, atau Jurusan Sastra Kucing.
Untunglah Nasya memiliki sahabat yang bernama Alvin. Jadi ia bisa menemukan solusi bagi persoalannya tadi. Solusi apa itu? Hmm, baca aja novelnya.

Kucing mengeluarkan meongan yang berbeda untuk maksud berbeda pula. Meongan lapar berbeda dengan meongan marah. Meongan sedih berbeda dengan meongan musim kawin.(hal 10).
Tak terbantahkan bahwa kucing predator alami tikus (hal 13).
Ular juga merupakan predator alami tikus. Namun memelihara ular untuk mengusir tikus bukan ide yang perlu dipertimbangkan. Sama sekali tidak menarik. Memelihara kucing jauh lebih menyenangkan. Kucing jauuuh lebih imut. Kucing juga bisa dipeluk-peluk dan dimanja-manja (hal 13-14).
Lucu juga kali ya kalo ada cowok yang kumisnya kayak kucing (hal 52).
Kucing kan binatang pintar. Mereka kadang-kadang makan rumput untuk membantu mengeluarkan bulu yang tertelan (hal 96).
Hidup ngalir kayak air gitu nggak bagus juga... Iya kalau ngalir ke tempat bagus. Kalo ngalir ke comberan? Kalo ngalir, trus masuk ke lubang dan ternyata nggak ada jalan keluar dari sana, gimana ceritanya tuh? ( hal 118).
Cowok sekeren dan sepinter apa pun, kalau jahat sama kucing dan malah pengin membuanh mereka, bagiku...nol besar! (Hal 142).
Kucing yang memilih manusia, bukan manusia yang memilih kucing. (Hal 152)
Masa depan ada di tangan mereka. Mereka yang harus membentuknya menjadi seperti apa. Dan masa depan itu dimulai dari sekarang. Dari langkah kecil hari ini. (Hal 177)

Membaca novel Ailurofil ini sangat menarik karena saya sendiri juga suka banget sama kucing sejak kecil sama seperti tokoh utamanya. Tapi nggak sampai membawa sisa-sisa tulang buat oleh-oleh kucing di rumah atau rela berhujan-hujanan demi nolongin kucing yang terjebak di selokan.
Di halaman 32 diceritakan bahwa dulu SMA 47 sama seperti kebanyakan sekolah lain yang menerapkan hukuman fisik pada siswa yang terlambat. Dari membersihkan toilet, mengepel aula, menyiram tanaman dan taman sekolah, sampai mengelilingi lapangan basket. Di sini saya jadi bernostalgia, saat masih sekolah SMA dulu. Di mana saya pernah dihukum lari keliling lapangan basket sepuluh kali karena terlambat. Ah, mestinya hukumannya itu seperti Nasya. Meresensi novel baru. Nggak capek tapi nambah ilmu. Iya, kan? He,he,he...
Di cerita sebelumnya, saya setuju banget dengan pernyataan Nasya bahwa nggak manusiawi memotret mobil penyok akibat kecelakaan. Apalagi mengunggahnya ke jejaring sosial. Hal ini yang bikin saya belakangan malas buka FB karena sering ada orang yang mengunggah foto orang lagi berdarah-darah di pinggir jalan bahkan ada yang meninggal mengenaskan. Bukannya nolongin. (Kok jadi sewot sendiri?)
Intinya saya suka sama novel ini, bukan saja terhibur karena isi cerita tapi ada hal-hal positif yang didapat dari membaca novel ini. Meski pun ini novel remaja, tapi saya rasa cocok untuk dibaca oleh berbagai kalangan.

Ada orang sukses bukan karena pernah kuliah di mana tapi karena passionnya.
-Triani Retno-

Komentar

  1. Makasih banyak resensinya, yaaa :)
    Wehehe...iya, masih ngarep banget pihak sekolah ngasih hukuman yang lebih mendidik dan bukannya main fisik. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama, mbak Triani Retno :) Bukunya bagus bgt... Saya suka..😄

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mau Pesan Paket Wisata Murah, di JadiPergi.com Aja Lebih Mudah dan Lengkap.

Siapa yang saat ini nggak suka berlibur dari penatnya aktivitas harian yang membosankan? Ya, bukan jamannya lagi jika mau berpiknik atau berlibur mesti cari tiket, cari pesawat atau kereta kesana-kemari karena sekarang ada paket wisata murah online terlengkap. Kali ini saya mau review bagaimana memilih paket wisata di JadiPergi.com.
Pertama, kita ketikkan JadiPergi.com, maka akan muncul layar seperti di bawah ini. 
screenshot layar doc.pribadi.
Bila belum mempunyai akun, kita harus membuat terlebih dahulu. Namun, jika kamu punya akun BebasBayar langsung bisa login dengan akun BebasBayar.   
screenshot layar doc.pribadi.
Berbagai menu pilihan di sana yaitu wisata, pesawat, kereta, kapal, hotel, railink, travel dan bus. Di sana ada berbagai promo paket wisata menarik ke beberapa wilayah Indonesia mulai harga 100 ribuan perorang. Layanan dalam JadiPergi.com berbasis website, aplikasi Android dan iOS sehingga mudah dioperasikan kapan pun dan di mana pun. Dengan motto "kemanapun jadi hep…

[Resensi Novel] Love in Italy-Kisah Cinta 4 Sahabat di Kota Venice dan Verona

Menyusuri Kota Venice dan Verona Melalui Novel RomantisJudul buku  : Love in Italy-Kisah Cinta 4 Sahabat di Kota Venice dan Verona
Penulis     : Rofie Khaliffa
Penerbit    : Sheila
Tahun terbit : 2015
ISBN      : 978-979-29-5102-8“Dalam bentuk kata aku bicara, namun dalam bicara tidak bisa berkata. Sementara dalam cinta, aku tidak bisa keduanya. Itulah cinta di balik mentari yang tak terlihat oleh mata...”
-Juliet Capulet- (Hal 180)Kisah dimulai dari perkenalan tokoh bernama Juliet Capulet. Seorang gadis yang sangat menyukai kisah Romeo dan Juliet, sampai bermimpi untuk tinggal di Verona tepatnya di tempat rumah Juliet berada. Ia kuliah sekaligus bekerja di sana. Suatu hari ia bertemu dengan Pethra, mahasiswa dari Indonesia. Seorang pemuda tampan yang diam-diam menaruh hati kepada sahabat sejak kecil bernama Pelangi. Namun sayang, ia tak berani mengungkapkan perasaannya. Di sisi lain, Bizar teman Pelangi sejak SMA juga menaruh hati pada Pelangi. Bedanya Bizar terang-terangan menunjukka…

Jangan Jadi Cewek Cengeng

Tulisan ini pernah aku kirim ke  lomba yang diadakan Penerbit Indiva tapi nggak lolos daripada terbuang mendingan kutampilkan di sini.Girls Talk Series : Jangan Jadi Cewek CengengJadi Cewek Cengeng atau Tegar, Semua Tergantung Kita.Hidup adalah pilihan. Beberapa di antaranya adalah hasil dari apa yang kau kerjakan, sedangkan yang lainnya mungkin terjadi tanpa alasan. Untuk menerimanya atau tidak, semua pilihan ada padamu. The Lavender House-Joseline F. JanaPilih nangis atau hadapi.Misal nih, tadi pagi kita telat bangun, baju belum disetrika, beruntung hujan tiba-tiba turun dengan derasnya sehingga sekolah memberi kelonggaran waktu masuk jadi sepuluh menit. Namun masalah belum berhenti di situ. Karena kamu lupa tidak membawa tugas yang harus dikumpulkan hari itu. Di bayanganmu ada sosok guru yang sudah siap memberi hukuman kepadamu.
Apakah pilihanmu? Nangis atau hadapi apa pun yang terjadi? Kalau pilihanmu nangis di depan guru dan teman-teman berarti kamu termasuk cewek cengeng. Atau …