[Resensi Novel] Love in Italy-Kisah Cinta 4 Sahabat di Kota Venice dan Verona

Menyusuri Kota Venice dan Verona Melalui Novel Romantis.


Judul buku  : Love in Italy-Kisah Cinta 4 Sahabat di Kota Venice dan Verona
Penulis     : Rofie Khaliffa
Penerbit    : Sheila
Tahun terbit : 2015
ISBN      : 978-979-29-5102-8

“Dalam bentuk kata aku bicara, namun dalam bicara tidak bisa berkata. Sementara dalam cinta, aku tidak bisa keduanya. Itulah cinta di balik mentari yang tak terlihat oleh mata...”
-Juliet Capulet- (Hal 180).

Kisah dimulai dari perkenalan tokoh bernama Juliet Capulet. Seorang gadis yang sangat menyukai kisah Romeo dan Juliet, sampai bermimpi untuk tinggal di Verona tepatnya di tempat rumah Juliet berada. Ia kuliah sekaligus bekerja di sana. Suatu hari ia bertemu dengan Pethra, mahasiswa dari Indonesia. Seorang pemuda tampan yang diam-diam menaruh hati kepada sahabat sejak kecil bernama Pelangi. Namun sayang, ia tak berani mengungkapkan perasaannya. Di sisi lain, Bizar teman Pelangi sejak SMA juga menaruh hati pada Pelangi. Bedanya Bizar terang-terangan menunjukkan perasaannya pada Pelangi, walaupun belum ada jawaban yang pasti dari Pelangi.
Sementara itu Juliet yang diam-diam menyukai Pethra mengalami dilema ketika Pethra terkena penyakit langka seperti yang diderita ayahnya dulu dan memintanya agar merahasiakan dari Pelangi dan keluarganya.
Akankah Pethra sembuh dari penyakitnya? Bagaimana dengan Juliet, akankah ia bertemu dengan Romeo impiannya? Apakah akhirnya semua mengetahui penyakit yang diderita Pethra? Bagaimana dengan Pelangi, akankah ia menerima Bizar atau ia menyukai orang lain?

Kalau kamu nggak menemukan kebahagiaanmu di tempat yang saat ini kamu pijak, melangkah dan tinggalkanlah tempat itu! Karena kamu nggak akan pernah menemui kebahagiaanmu disitu, di tempat yang udah banyak membuatmu terluka (hal.49).

Jika bukan cinta, mengapa degupan jantung terasa mengencang setiap kali tatapan mereka bertemu? Jika bukan cinta, mengapa hati selalu meneriakkan namanya setiap kali rindu datang menyapa? Mengapa selalu sepi meski berada di keramainan sekalipun jika tak saling bertemu? Jika bukan cinta, lalu apa namanya?(hal.63).

Aku iri pada rembulan. Ia masih mempunyai teman untuk berbagi, teman untuk bertukar cerita (hal 71).

Hidupku yang awalnya hitam-putih, kini berwarna-warni. Aku seolah tersihir oleh kehadirannya yang mampu mengubah duniaku. Melumpuhkan sepiku. Membuatku tak lagi iri pada rembulan. Untuk apa? Kini aku sudah mempunyai teman untuk berbagi, juga untuk bertukar cerita (hal 72).

Cinta itu harus diungkapkan, Juliet!
Seandainya bisa, aku ingin sekali datang kepadanya dan mengungkapkan semuanya. Segala rasa yang membelenggu jiwa. Segala rasa yang membenam dalam, yang bertaruh melawan waktu. Tapi...aku benar-benar tidak bisa! (Hal 104).

Bagai embun yang tak bisa hidup tanpa sang fajar. Bagai mentari yang tak bisa hidup tanpa siang. Atau, siluet yang tentu tak ada tanpa senja, juga rembulan yang takkan ada tanpa malam. Mungkin begitulah perasaanku kepadanya (Hal 123).

Menolehlah. Lihat aku di sini. Di belakangmu. Aku yang hanya bisa memandangi punggungmu dari kejauhan, sebab wajahmu terpaku kepadanya di depan sana. Menolehlah. Sadari aku yang memerhatikanmu tanpa jenuh dari titik ini. Titik yang tidak pernah kau lihat.
Melihatmu bersamanya, membuatku ingin mundur dan menyerah. Haruskah? (Hal 128).

Pesta tanpa dansa itu seperti sayur tanpa gula. Hambar! (Hal 130).

Asal bisa setiap hari bertemu dengannya, aku bahagia. Meskipun sekarang dia belum melihatku, aku yakin, suatu hari nanti dia pasti melihatku. Dia pasti akan terharu melihat perjuanganku untuknya (Hal 135).

Aku tertegun mendengarnya. Hujan sudah reda, namun hujan dari hati ini sepertinya belum. Gemuruh petir beradu dengan terpaan badai musim dingin, serta merta memorak-porandakan hati ini hingga tak lagi berbentuk. Aku yang salah karena membiarkan perasaan ini mendalam dan terus mendalam kepadanya yang tidak pernah mengharapkanku. Seharusnya, ketika aku belum terlalu jauh, aku berbalik! Bodoh (Hal 135).

Pada akhirnya kamu sadar juga. Enggak salah memang kalau langit jatuh hati pada pelanginya, meski dia tahu pelangi nggak selalu muncul melukis warna-warni di hatinya ketika hatinya dirundung hujan lebat (Hal 135-136).

Seperti pertanyaan, makan atau bernapas? Apakah itu bisa disebut pilihan? (Hal 137).

Asalkan melihat orang-orang yang dicintainya bahagia, melihat orang-orang yang dicintainya tersenyum, kesakitan itu berubah menjadi kebahagiaan.
Kalau kita nggak bisa menjadi pensil untuk melukis senyum dan kebahagiaan bagi orang lain, seenggaknya berusahalah menjadi penghapus untuk bisa menghapus luka dan kesedihan orang lain.
Untuk menjadi penghapus, tentu luka dan kesedihan orang lain akan berpindah pada diri kita sendiri, kan? (Hal 186).

Ketika kita berusaha menghapus tulisan yang salah, bukankah bekas-bekas hitam itu pada akhirnya melekat di badan penghapus? (Hal 187).

Harapan akan muncul ketika seseorang terjebak dalam kegelapan dan keputusasaan (Hal 216).

Setiap orang diberi cara dan petunjuk berbeda-beda sama Tuhan untuk menemukan cahaya hidupnya masing-masing (Hal 216).

Hidup bukan untuk terus tertidur dalam bayang-bayang kenangan (Hal 220).

Membaca novel pertama karya Rofie Khallifa ini membuat saya serasa diajak berkeliling Italia. Mulai dari Via Capello tempat rumah Juliet berada, Basilica St. Pieter (Gereja Santo Petrus), Trattoria Da Bepi(rumah makan khas Italia),  Pulau Murano, dan di sini disebutkan pula tipe jalan yang harus diketahui oleh para turis di kota Venesia. Semua tempat itu digambarkan begitu detail sehingga setting dalam novel tidak terkesan hanya tempelan belaka namun menghidupkan suasana romantis di dalam novel. Dari awal sampai akhir novel ini asyik dibaca dan tidak membosankan

Percikan [Mimpi dalam Sebuah Cupcakes] dimuat di majalah Gadis no.19 11-21 Juli 2014

Mimpi dalam Sebuah Cupcakes
Aku masih berada di atas tempat tidur saat semua anggota keluargaku bersiap-siap pergi ke taman kota untuk lari pagi bersama.
Aku nggak suka lari tapi kata papa aku harus berlari agar nggak ketinggalan sama yang lain. Papa benar, aku harus lari kalo masih mau makan roti bakar di pinggir taman.
Aku bangkit, mandi dan turun bergabung dengan kedua kakakku Kak Vido dan Kak Maya. Dibanding mereka, aku bukan apa-apa. Kak Vido, sebentar lagi menyelesaikan S-1 di usianya yang kesembilanbelas. Sedang Kak Maya, ia sudah mulai buka usaha butik di usia tujuhbelas. Tahun depan ia akan terbang ke Paris untuk kuliah mode gratis!
Fiuuh....! Aku menghembuskan napas kuat-kuat. Rasanya dadaku sesak mengingat obrolanku dengan papa tadi malam. Intinya papa ingin aku ikut kursus tambahan selain sekolah. Beliau pasti prihatin melihat anak perempuannya tidak memiliki prestasi apa-apa.
Sepanjang lari pagi, aku banyak melamunkan nasibku ke depan. Hidupku yang tanpa tujuan akan membawaku terombang-ambing sat dewasa nanti.
Aku mengambil tempat di bawah pohon yang rindang sementara papa dan yang lain menunggu antrian roti bakar. Mataku berkeliling mengamati orang-orang di taman kota ini. Beberapa asyik lari pagi, jalan-jalan dengan bayinya, ada juga yang sibuk berjualan.
Kulihat seorang cewek baru datang dengan sepedanya. Ia menurunkan kotak-kotak makan berisi roti. Seorang pria membantunya untuk menata kotak dagangan itu di meja panjang.
Adonan cake kutuang ke dalam loyang muffin beralaskan cup kertas. Kumasukkan ke oven milik nenek. Ah, rasanya pasti enak.
Hari ini aku belajar bikin cupcakes di rumah nenek. Ibu dari ayahku itu memberikan tips rahasia tentang cake. Takarannya harus seimbang, tidak boleh kira-kira atau mengikuti keinginan. Kenali sifat-sifat bahan. Nenek punya banyak resep yang bisa kupelajari nanti.
Oh ya, sekarang aku sedah punya ide untuk masa depanku. Lulus SMA nanti aku akan kuliah di Perancis, belajar aneka kue, pulang ke tanah air buka toko kue sendiri.Dimulai dari garasi rumahku. Sebuah kedai cupcakes sederhana. Semua orang yang datang akan kuberi minuman ekstra semacam the lemon yang nikmat.
Lambat laun cupcake cokelat andalanku akan terbang ke berbagai negara, Singapura, Taiwan, Hongkong, Eropa bahkan Afrika. Aku mulai naik dalam karierku.
“Mama, Papa aku berhasil....!” seruku.
Kini kedai cupcakes aku sudah berdiri dan memiliki 100 cabang yang tersebar di seluruh  dunia. Aku punya ribuan karyawan. Setiap hari aku hanya berkeliling dari outlet satu ke outlet yang lain. Mengontrol kualitas, food testing, kinerja karyawan sampai kebersihan dapur.
Hmmm.... kuhirup aroma cupcakes yang lezat. Aroma dari dapur outletku.
“Vero, bangun, bangun!”
“Oh iya, cupcakes aku...”
“Cupcakes apa?” Tanya papa kebingungan. Kak Vido dan Kak Maya saling berpandangan.
Astaga! Rupanya aku ketiduran di bawah pohon. Aku sama sekali belum ke rumah nenek. Tapi tak apa paling tidak kini aku punya mimpi seperti kedua kakakku!
****