[Mama & Buncis] Percikan dimuat di majalah Gadis, no. 16/11-20 Juni 2013


Mama & Buncis
Oleh : Yustrini
Satu kali mama masak buncis, itu biasa. Dua kali nggak masalah. Tapi kalau setiap hari sampai lebih dari 3 kali itu baru aneh bin ajaib namanya. Perutku sudah puas diisi oleh tumis sayur, cah sayuran, telur goreng, asam-asam, balado, sup dari satu macam bahan yaitu buncis.
Aku akui mama memang jago masak. Apa saja yang mama buat pasti nggak kalah sama masakan restoran. Kak Bono dan papa setuju, malah sering protes kalau memakan masakan yang dibuat oleh Bi Sumi, asisten rumah tangga kami.
“Mulai sekarang mama yang harus memasak di rumah ini,” ujar papa menutup aksi protesnya.
“Setuju...!!!” Aku dan kak Bono berseru kompak mendukung aksi protes papa.
Sejak saat itu mama jadi rajin mengkoleksi buku-buku masakan dan menghidangkan masakan lezat yang jarang kami makan seperti masakan Jepang, Perancis atau Italia yang untuk menyebut namanya saja bisa membuat lidahku terkilir. Sehingga kami memberi mama julukan, “Chef mama.”
Tetapi sejak tiga hari terakhir ini, mama lebih suka bereksperimen dengan sayuran hijau mirip kacang panjang tapi lebih gemuk dan pendek bernama latin Phaseolus Vulgaris alias buncis.
“Mungkin prediksi tahun 2013 buncis jadi sayur paling tren seindonesia,” tebak Dede teman sekelasku saat aku ceritakan soal mama.
“Bisa jadi harga buncis sedang mencapai harga terendah di pasar, Ver.” Ujar Siska.
“Atau mamamu ingin jadi chef buncis yang terkenal dan menggebrak dunia kuliner di negeri tercinta ini,” tebak Jessy.
Aku cuma mengangguk-anggukkan kepala mendengar tebakan ketiga temanku. Semua mungkin kecuali yang terakhir itu agak kurang menyakinkan karena setahuku mama bukan tipe orang yang suka menonjolkan diri di lingkungannya.
***
Hari kedelapan, aku, kak Bono, dan papa sepakat untuk melakukan penyelidikan ala detektif Sherlock Holmes. Jujur kami bertiga bosan setengah mati menyantap hidangan serba buncis inovasi chef mama.
Pertama, tugasku menyelidiki persediaan bahan mentah di dapur, ternyata mama selalu membeli buncis segar di pasar jadi tidak ada stok.
Kedua, kak Bono pergi mengorek informasi dari pedagang sayur di pasar. Hasilnya harga buncis tak kalah mahal dengan sayuran yang lain.
Sedangkan papa berselancar di internet untuk mencari apa tren masakan terbaru saat ini. Hasilnya nol besar, kami bertiga seperti detektif yang kehilangan jejak. Tak satupun petunjuk yang menjelaskan keanehan hobi baru mama mengolah buncis. Sementara dari hari ke hari masakan mama makin aneh saja.
Sebatang buncis dijadikan minuman segar di siang hari. Huah! Tak dapat kubayangkan bila buncis dicampur dengan agar-agar menjadi puding.
Bagi kami bertiga sekarang, saat makan adalah saat yang paling menyiksa. Kak Bono jadi sering jajan diluar, papa juga malas pulang waktu jam istirahat kantor. Aku sendiri suka mencari kesempatan untuk terlambat pulang dengan alasan belajar kelompok di rumah teman. Intinya, jam makan bagi keluarga kami bukanlah sesuatu yang istimewa seperti dulu. Semua hancur hanya karena sejenis polong-polongan bernama buncis.
“Say no to buncis!” Itu komentar pertamaku saat sarapan pagi ini. Disambut oleh anggukan kepala tanda setuju dari kak Bono dan papa..
Mama hanya tersenyum sambil menghidangkan nasi goreng ke atas piring kami masing-masing.
“Tanpa buncis?” Tanyaku heran. Kumasukkan sesendok nasi ke mulutku. Hmm, enak.
Selama makan, mama mengumumkan akan ada temannya yang datang nanti untuk makan malam bersama.
“Wah, mama masak enak dong nanti malam,” ujar papa gembira sambil terus melahap nasi gorengnya.
“Kalau begitu, nanti Vera bantu masak, Ma.” ujarku.
“Dan Bono yang belanja,” sambung kak Bono.
“Tidak perlu,” jawab mama dengan senyuman misterius.
“Jangan bilang kalau mama ingin masak buncis lagi malam ini,” ujar kak Bono sambil mengelus perutnya.
“Iya! Bono sudah cukup lega pgi ini perutku tidak diisi buncis.” ujar kak Bono sambil mengelus -elus perutnya.
“Kita lihat saja nanti,” senyuman mama semakin aneh.
Tapi rupanya prediksiku meleset, mama sama sekali tidak menghidangkan menu bertemakan buncis. Makan malam bersama teman mama, tante Desi cukup menyenangkan. Terutama karena aku cuma melihat Sup rolade ayam, Oseng tempe cabai hijau, Ayam bakar sayur hijau, dan Puding susu pisang hijau.
Tanpa buncis.
Selesai makan malam, aku, kak Bono dan papa berterimakasih karena menu hari ini bebas dari buncis.
“Kalian salah, justru resep rahasia masakan mama terletak pada buncis,” kami bertiga bengong mendengar perkataan mama. Tante Desi pun ikut tercengang.
“Mama tahu kalau kak Bono, Vera dan papa sudah bosan melihat bentuk buncis yang hanya seperti itu saja. Jadi mama campur dengan bumbu-bumbu halus sehingga tidak terlihat. Dan rolade yang kalian makan tadi terbuat dari buncis dan daging ayam yang digiling bersama.”
“Hanya satu menu tanpa buncis hari ini,”tebakku.
“Nasi goreng tadi pagi,” sambung kak Bono.
“Salah, nasi goreng juga beerbumbu buncis,” ujar mama.
Tante Desi bertepuk tangan gembira.
Teka-teki mulai terjawab. Misteri terbongkar tanpa usaha keras dari para detektif gadungan yaitu aku, kak Bono dan papa.
Awalnya dari keinginan tante Desi yang mau membuka restoran khusus sayur buncis, makanan favoritnya. Namun mama memiliki ide untuk bereksperimen membuat semua masakan serba berbahan buncis.
Hasilnya, malam ini tante Desi dibuat kagum oleh semua masakan mama dan meminta mama untuk jadi chef di restoran barunya.
Kurasa mama sudah berhasil mengubah selera kami yang malas makan buncis jadi suka karena mama bisa mengolahnya menjadi masakan enak, lezat dan kaya manfaat.
Dan hari-hari kami mulai sekarang tidak akan lepas dari sayuran hijau yang mirip kacang panjang itu karena nama restorannya adalah...
“Buncis...” Mama dan tante Desi berseru sambil mengacungkan jari telunjuk dan tengah membentuk huruf V.
****​​
     

1 komentar: